Efektivitas Pembelajaran Luring dan Daring  Terhadap Kegiatan Belajar Siswa di Masa Pandemi

Efektivitas Pembelajaran Luring dan Daring Terhadap Kegiatan Belajar Siswa di Masa Pandemi

Banda Aceh – Pelaksanaan kegiatan belajar formal pada masa pandemi ini dilakukan dengan model daring atau BDR (Belajar Dari Rumah). Dengan diberlakukannya sistem pembelajaran tersebut terkadang membuat siswa kesulitan untuk memahami materi pembelajaran. Untuk mengatasi hal tersebut, diperlukan pendampingan belajar yang dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi di sekolah. Pendampingan belajar yang dilakukan menggunakan metode, model, dan media belajar yang menarik sehingga siswa dapat memahami materi dengan baik.

Seperti kita ketahui bersama, pendidikan di Indonesia saat ini menggunakan kurikulum K13 yang pada dasarnya siswa harus lebih aktif ketimbang guru. Kurikulum K13 menuntut siswa untuk berani mengungkapkan pendapatnya. Pada suatu proses pendidikan, terdapat tiga unsur penting yaitu input, proses, dan output. Input yang dimaksud adalah dari latar belakang siswa itu sendiri. Proses yaitu dimana siswa itu memperoleh ilmu dan menerima ilmu dari guru tersebut. Output yaitu hasil dari pembelajaran. Siswa mempresentasikan apa yang ditangkap dari pembelajaran tersebut dan menerapkan ilmu di dalam kehidupan masing masing. (Rijal & Bachtiar, 2015)

Seiring berjalannya waktu, kegiatan sekolah yang dilakukan oleh siswa dengan guru di kelas atau tatap muka (luring) adalah suatu hal yang hampir tidak tergantikan dengan pembelajaran jarak jauh (daring/online). Hampir dua tahun sudah pembelajaran online diterapkan untuk menekan penyebaran virus covid-19. Sistem pembelajaran daring dan luring, mau tidak mau harus diterapkan saat ini.

Zahra Hamid, siswi kelas XI APL A, saat ditemui di Gedung C SMK SMTI Banda Aceh, Ju’mat (24/9) mengatakan, “Pembelajaran daring ada untungnya. Kegiatan belajar dapat dilakukan tanpa harus ke sekoah. Pembelajaran dapat dilakukan dimana saja. Ilmu dapat dan juga quality time bersama keluarga juga dapat. Namun, pembelajaran daring juga ada kendalanya, seperti kualitas jaringan internet yang terkadang kurang stabil sehingga saya berkurang semangat belajarnya. Banyak materi yang terlewatkan yang mengakibatkan tidak kurangnya pehaman terhadap materi terkait bahkan tidak mengerti sama sekali.”

Sofia Munira, guru pelajaran Analisis Kimia Instrumen, mengatakan bahwa ia sering menemui permasalahan dalam pembelajaran daring. “Pembelajaran secara tatap muka lebih berkesan, karena pembelajaran tatap muka dapat bertemu langsung dangan siswa yang akan berimbas pada mudahnya transfer ilmu kepada siswa dan meminimalisir learning loss. Setiap siswa membutuhkan perhatian yang berbeda ketika pembelajaran. Beda siswa beda perlakuan. Namun, jika pembelajaran dilakukan secara online, akan terbatas dalam penyaluran ilmu yang diberikan. Banyak siswa kurang dapat memahami apa yang disampaikan guru. Kegiatan secara online pun hanya sering dilakukan dalam hal memberikan PR atau tugas saja.” ujarnya ketika ditemui di Laboratorium Instrument Gedung C SMK SMTI Banda Aceh, Ju’mat (24/9).

Salah satu efek positif, pembelajaran daring menyadarkan kita akan potensi luar biasa internet yang belum dimanfaatkan sepenuhnya dalam berbagai bidang, termasuk bidang pendidikan. Tanpa batas ruang dan waktu, pendidikan bisa dilakukan kapanpun dan dimanapun. Terlebih lagi sekarang ini, belum ada kepastian kapan pandemi ini akan berakhir, pembelajaran daring menjadi sebuah kebutuhan hal yang harus dipenuhi.

Namun, kemungkinan-kemungkinan buruk juga bisa saja terjadi. Meskipun secara formal kegiatan pendidikan masih bisa dilakukan secara daring, pendidikan karakter selama masa pandemi ini, rasanya menjadi sedikit terabaikan, karena guru dan siswa tidak saling bertatap muka secara langsung.

Menurut penulis, ada beberapa dampak negatif yang timbul akibat kegiatan pembelajaran yang dilakukan secara daring:
1. Penurunan Capaian Belajar Siswa
Banyak siswa yang melakukan pembelajaran secara daring menemukan permasalahan, seperti kurang dapat memahami apa yang disampaikan oleh guru, pembelajaran yang tidak dibarengi dengan praktikum, tidak hadir saat pembelajaran daring dilaksanakan, dst.
2. Menimbulkan Kelalaian bagi Siswa
Banyak siswa selama proses pembelajaran secara daring dilakukan tidak mengikuti pembelajaran dikarenakan mereka lalai dengan game online.
3. Menambah Beban Ekonomi
Tidak semua perekonomian siswa sama. Masih ada siswa yang tidak memiliki perangkat digital dan kuota internet yang sesuai kebutuhan. Selain itu, tingkat pemahaman siswa akan perkembangan teknologi juga berbeda-beda. Sebagian siswa terkendala dalam mengoperasikan perangkat pembelajaran daring.
4. Beresiko Kehilangan Pembelajaran (Learning Loss)
Banyak siswa kurang bahkan tidak bisa fokus selama pembelajaran daring berlangsung. Yang lebih parah lagi, pada saat pembelajaran, siswa login ke kelas daring hanya formalitas saja. Siswanya sendiri sibuk mengerjakan hal-hal lain.

Menyiasati terjadinya kemungkinan-kemungkinan negatif tersebut, saat ini dikenalkan sebuah konsep pembelajaran, yaitu Blended Learning. Blended Learning merupakan metode pembelajaran yang menggabungkan daring dan luring. Konsep ini ternyata lebih cepat terbentuk dari prediksi pemerintah sebelumnya. Konsep ini pada dasarnya bertujuan untuk menghadirkan fleksibilitas pembelajaran yang belum pernah dirasakan murid sebelumnya.

Bagaimana dengan sistem pembelajaran di SMK SMTI Banda Aceh?

SMK SMTI Banda Aceh saat ini menerapkan sistem Blended Learning. Untuk teori pembelajaran dilakukan secara daring, sedangkan praktiknya dilakukan secara luring dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan yang berlaku. Dalam pelaksanaannya, guru dan siswa lebih antusias untuk melakukan pembelajaran dibandingkan dengan pembelajaran full daring. Semoga saja pandemic ini segera berakhir agar pelaksanaan pembelajaran kembali normal seperti biasanya.(MAS)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *