Tingkatkan Kesiapsiagaan Tanggap Darurat, SMK SMTI Banda Aceh Gelar Pelatihan K3, Kesiapsiagaan Tanggap Darurat, dan Penggunaan APAR (Day 1)

Tingkatkan Kesiapsiagaan Tanggap Darurat, SMK SMTI Banda Aceh Gelar Pelatihan K3, Kesiapsiagaan Tanggap Darurat, dan Penggunaan APAR (Day 1)

SMK SMTI Banda Aceh – Sebanyak 42 peserta mengikuti Pelatihan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), Kesiapsiagaan Tanggap Darurat, dan Penggunaan Alat Pemadam Api Ringan (APAR) yang dilaksanakan selama 2 hari, Kami dan Jum’at, 14 dan 15 Oktober 2021 di Lingkungan Gedung B SMK SMTI Banda Aceh. Kegiatan tersebut menghadirkan pemateri dari Dinas Tenaga Kerja Dan Mobilitas Pendudukan Aceh (Disnaker Mobduk), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Banda Aceh, dan juga Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Banda Aceh.

   

Plt. Kepala SMK SMTI Banda Aceh, Abdurrahman, dalam pembukaannya mengungkapkan sangat pentingnya kegiatan ini untuk dilaksanakana mengingat setiap pekerja diwajibkan untuk mematuhi semua peraturan keselamatan dan kesehatan kerja yang dipersyaratkan, baik aturan yang bersifat internal maupun regulasi pemerintah yang berlaku.

“Setiap pekerja wajib untuk bertanggung jawab terhadap keselamatan dan kesehatan dirinya sendiri maupun lingkungan kerjanya. Berdasarkan hal tersebut, maka rasanya perlu sebuah pengetahuan, kemampuan, dan keterampilan bagi para pekerja untuk menerapkan prinsip dasar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) ini di tempat kerjanya masing-masing”, ungkapnya. Kamis (14/10). Abdurrahman juga menghimbau agar peserta mengikuti kegiatan ini dengan seksama dari mulai materi secara teori hingga praktik simulasi yang diberikan.

Pada sesi pertama hari pertama kegiatan yaitu hari Kamis, 14 Oktober 2021, pukul 08.00 WIB s.d. 10.00 WIB, pemateri pertama yaitu Zulfikar, Pengawas Ketenagakerjaan Disnaker Mobduk Aceh, menyampaikan teori tentang pengawasan keselamatan dan kesehatan kerja. Dalam penyampaiannya, Zulfikar mengatakan bahwa bukan sistem pengawasan K3 yang penting, tetapi mewaspadai akibat yang ditimbulkan oleh kecelakaan kerjanya.

“K3 adalah suatu kondisi dalam pekerjaan yang sehat dan aman baik untuk pekerjaan, perusahaan, maupun untuk masyarakat dan lingkungan di sekitar tempat bekerja. Risiko terhadap kecelakaan kerja dan penyakit yang diakibatkan oleh pekerjaan perlu diwaspadai karena bisa terjadi dimana saja, kapan saja, dan kepada siapa saja,” jelasnya. Kamis (14/10).

Selesai memberikan materi, Zulfikar mengajak seluruh peserta pelatihan untuk melakukan plan tour seluruh gedung di Lingkungan Gedung B SMK SMTI Banda Aceh. Dalam tour yang dilakukan tersebut, Zulfikar menjelaskan beberapa aturan-aturan yang berkaitan dengan K3.

“Jarak antara APAR yang satu dengan yang lainnya harus 15 meter dan letaknya harus berada pada exit area, sehingga memungkinkan untuk melakukan tindakan cepat jika terjadi kebakaran. Pintu evakuasi juga harus tahan panas dan harus dapat didorong ke arah luar sehingga memudahkan saat melakukan evakuasi. Jalur evakusi juga harus diberikan tanda marka agar memudahkan proses evakuasi serta titik kumpul harus berda di center area,” tambahnya. Ia juga mengajak kepada seluruh peserta agar tidak sebatas mengikuti pelatihan saja, tetapi berusaha untuk menjadi agen K3 dan berbudaya K3.

  

Selanjutnya pada sesi kedua di hari yang sama, pematerinya adalah Sabri dari BPBD Kota Banda Aceh. Materi yang diberikan terkait membuat skenario jika terjadi bencana dan membentuk tim siaga bencana SMK SMTI Banda Aceh. Ia mengungkapkan, perlu adanya kesiapsiagaan dari setiap individu untuk cepat tanggap terhadap bencana dan proses evakuasinya. Mawas diri terhadap suatu bencana yang akan terjadi perlu dilakukan.

“Kesiapsiagaan tanggap darurat bencana adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk mengantisipasi bencana melalui pengorganisasian serta melalui langkah yang tepat guna dan berdaya guna. Penanggulangan Bencana di Indoensia sejatinya sudah diatur dalam UU RI No. 24 Tahun 2007 tentang Penaggulangan Bencana. Oleh karena demikian, setiap individu perlu memiliki kesiapsiagaan tanggap darurat bencana,” paparnya. Kamis (14/10).

Sabri juga menambahkan agar peserta pelatihan juga menyampaikan kepada teman, saudara, dan keluarga apa saja informasi yang diperoleh pada kesempatan ini terkait kesiagaan dalam tanggap darurat bencana.

   

“Setelah mengikuti pelatihan ini saat sampai dirumah sampaikan kepada teman, saudara, dan keluarga, agar mereka semua bersiaga ketika kemungkinan terjadinya bencana, mengingat daerah kita juga rawan terjadi gempa bumi, banjir, kebakaran bahkan tsunami,” tambahnya di akhir pembicaraan.(MAS)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *