Abstrak: Budaya cinta lingkungan merupakan budaya yang sangat penting digalakkan di era globalisasi ini khususnya bagi kalangan pelajar untuk menumbuhkan rasa kecintaan terhadap lingkungan sehingga kelak akan senantiasa menjaga kelestarian lingkungan. Penelitian ini bertujuan melihat lebih jauh proses sosialisasi yang dilakukan PCL dalam membangun kesadaran budaya cinta lingkungan, dampak kehadiran PCL, dan peran PCL. Penelitian dilakukan secara kualitatif yang pengumpulan datanya dilakukan dengan observasi dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan proses sosialisasi budaya cinta lingkungan diawali membangun komitmen bersama warga sekolah untuk penerapan budaya cinta lingkungan. Selanjutnya dibentuk tim 7 dengan peran masing-masing dan saling berkolaborasi. Hadirnya PCL terbukti memberi dampak positif dan mampu memperbaiki kualitas kebersihan lingkungan SMK SMTI Banda Aceh dan lingkungan 21 sekolah binaan PCL se-Kota Banda Aceh, bahkan area publik. Hal ini terbukti dengan penghargaan-pernghargaan berwawasan lingkungan yang diraih di tingkat Kota Banda Aceh, tingkat Provinsi Aceh, dan tingkat Nasional. Selanjutnya, peran PCL sangat besar dalam meningkatkan budaya cinta lingkungan. Hal ini dikarenakan keberadaan PCLmemberikan pelajaran kepada semua pihak bahwa tanggung jawab terhadap kebersihan, perlindungan, dan pelestarian lingkungan hidup bukan hanya tanggung jawab tenaga kebersihan, pemerhati lingkungan, dan pemerintah, tetapi juga merupakan tanggung jawab kita semua. Selain itu, organisasi siswa PCL tidak hanya membentuk karakter siswa yang peduli lingkungan, tetapi juga mampu memotivasi anggotanya untuk berprestasi di segala bidang termasuk bidang akademik.

Kata kunci: Peran Siswa, Kesadaran Budaya Cinta Lingkungan, Pelajar Cinta Lingkungan

A. Pendahuluan

Budaya cinta lingkungan merupakan budaya yang sangat penting digalakkan di era globalisasi ini. Budaya cinta lingkungan dalam kehidupan sehari-hari bermasyarakat diartikan sebagai reaksi seseorang terhadap lingkungannya dengan tidak merusak lingkungan alam. Bila sikap peduli lingkungan dapat dinyatakan dengan aksi-aksi, maka peserta didik yang peduli akan lingkungannya akan senantiasa menjaga kelestarian lingkungan.[1] Hal ini tentunya relevan dengan program pembangunan berkelanjutan sebagai upaya manusia untuk memperbaiki mutu kehidupan dengan tetap berusaha tidak melampaui ekosistem yang mendukung kehidupannya. Dewasa ini masalah pembangunan berkelanjutan telah dijadikan sebagai isu penting yang perlu terus disosialisasikan di tengah masyarakat. Emil Salim mengatakan bahwa pembangunan berkelanjutan bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, untuk memenuhi kebutuhan, dan aspirasi manusia. Pembangunan yang berkelanjutan pada hakekatnya ditujukan untuk mencari pemerataan pembangunan antargenerasi pada masa kini maupun masa mendatang. Menurut KLH, pembangunan yang pada dasarnya lebih berorientasi ekonomi, dapat diukur keberlanjutannya berdasarkan tiga kriteria yaitu: (1) tidak ada pemborosan penggunaan sumber daya alam atau depletion of natural resources; (2) tidak ada polusi dan dampak lingkungan lainnya; dan (3) kegiatannya harus dapat meningkatkan useable resources ataupun replaceable resource.[2]

Dengan sikap peduli lingkungan maka akan tercipta lingkungan yang bersih dan asri. Menurut Sue, cinta lingkungan menyatakan sikap-sikap umum terhadap kualitas lingkungan yang diwujudkan dalam kesediaan diri untuk menyatakan aksi-aksi yang dapat meningkatkan dan memelihara kualitas lingkungan dalam setiap perilaku yang berhubungan dengan lingkungan. Salah satunya dengan melakukan pengelolaan terhadap sampah yang dihasilkan dalam aktivitas sehari-hari.[3] Dewasa ini masalah sampah merupakan salah satu masalah serius dalam lingkungan hidup di seluruh dunia dan kaitannya sangat erat dengan kehidupan manusia sehari-hari. Bisa dikatakan bahwa masalah sampah adalah masalah persepsi masyarakat mengenai sampah.[4]

Rasa kecintaan kepada lingkungan harus disosialisasikan kepada masyarakat era globalisasi ini karena sampah, khususnya sampah plastic, merupakan salah satu isu global yang harus dituntaskan sesegera mungkin. Pengelolaan sampah yang merupakan bagian dari aksi cinta lingkungan merupakan hal yang sangat penting untuk diinternalisasi kepada masyarakat, khususnya pelajar karena manusia tidak dapat dipisahkan dengan masalah sampah, sebagai pihak penghasil sampah. Sampah menjadi masalah berikutnya dimana Indonesia sudah masuk kategori darurat sampah. Lebreton mengatakan bahwa plastik merupakan kontributor sampah terbesar selain makanan dan Indonesia menyumbang 200.000ton plastik di laut (14,2 persen total sampah plastik dunia) dari empat sungai besar di Jawa dan Sumatera.[5]

Sampah dan kerusakan lingkungan hidup adalah isu penting dan merupakan salah satu hambatan di dalam pembangunan berkelanjutan. Kerusakan lingkungan hidup dan volume sampah akan terus bertambah seiring pertambahan jumlah penduduk, peningkatan taraf ekonomi, perubahan gaya hidup, serta pola konsumsi masyarakat. Pengendalian sampah dan pengurangan dampak kerusakan lingkungan menuntut peran aktif pemerintah dan masyarakat.[6] Lingkungan yang bersih termasuk lingkungan sekolah yang bersih, sejuk dan tertata rapi adalah dambaan semua pihak.[7] Namun kenyataannya, sampai saat ini masih banyak dijumpai lingkungan sekolah yang kotor dengan sampah yang berserakan. Kebanyakan sekolah masih mengalami kesulitan dalam menyelesaikan permasalahan ini karena terbatasnya anggaran, jumlah tenaga kebersihan tidak sebanding dengan luas area sekolah, serta rendahnya kesadaran dan kepedulian warga sekolah.

Pelajar yang cinta akan lingkungan bisa menjadi salah satu upaya untuk mewujudkan lingkungan yang bersih. Tidak hanya lingkungan sekolah, tetapi juga lingkungan sekitarnya bahkan lingkungan perkotaan. Maka dari itu, pada tahun 2014, Sekolah Menengah Kejuruan Sekolah Menengah Teknologi Industri (SMK SMTI) Banda Aceh, menggagas pembentukan sebuah organisasi pelajar yang diberi nama Pelajar Cinta Lingkungan (selanjutnya akan disingkat dengan PCL). Secara umum, tujuan PCL ini adalah untuk menggugah, mengajak, melibatkan siswa bersama-sama masyarakat dan pemerintah dalam usaha perlindungan dan pelestarian lingkungan hidup. PCL memiliki peran dan tanggung jawab untuk mensosialisasikan budaya cinta lingkungan kepada rekan sesama pelajar, baik itu internal SMK SMTI Banda Aceh maupun pelajar SD/ sederajat, SMP/ sederajat, dan SMA/ sederajat se-Kota Banda Aceh bahkan se-Provinsi Aceh. Sejak 2014 lalu hingga saat ini, PCL sudah cukup eksis di kalangan pelajar se-Kota Banda Aceh, di Pemerintahan Kota Banda Aceh dan Pemerintahan Provinsi Aceh, DPRK Banda Aceh, serta di Lembaga Swadaya Masyarakat yang berbasis lingkungan seperti Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Aceh dan Earth Hour Aceh. Dari segi akademik pun, siswa-siswa yang bergabung PCL sebagian besarnya masuk ke dalam peringkat 10 besar di setiap kelas masing-masing bahkan ada yang meraih predikat siswa teladan dan siswa terbaik di setiap wisuda kelulusan mereka setelah menempuh pendidikan selama 3 tahun di SMK SMTI Banda Aceh.

Berdasarkan hal tersebut, dalam tulisan tentang peran siswa dalam meningkatkan kesadaran budaya cinta lingkungan yang merupakan studi kasus pada Pelajar Cinta Lingkungan di SMK SMTI Banda Aceh ini, penulis akan menggambarkan tiga persoalan penting yaitu, bagaimana proses sosialisasi yang dilakukan PCL dalam membangun kesadaran budaya cinta lingkungan bagi rekan sesama pelajar, warga sekolah SD/ sederajat, SMP/ sederajat, dan SMA/ sederajat, bahkan terhadap masyarakat umum dan lingkup pemerintahan, baik tingkat kota, provinsi, maupun nasional; apa dampak kehadiran PCL; dan seberapa penting peran PCL dalam membangun kesadaran budaya cinta lingkungan. Penggambaran hal-hal tersebut, harapannya bisa menjadi masukan bagi semua pihak dalam kehidupan bermasyarakat, khususnya pelajar yang kelak menjadi agent of change, yang akan menjaga kelestarian lingkungan hidup kita.

B. Landasan Konseptual

Budaya Cinta Lingkungan

Hubungan interdependen manusia dengan lingkungan sangat rumit dan banyak variabel yang berperan ketika terjadi masalah lingkungan. Kerusakan lingkungan, menurut J. Baros dan J. M. Johnson, erat kaitannya dengan aktivitas manusia, antara lain kegiatan industri, pembangunan, transportasi, dan pertanian.  Konsep yang sama dikemukakan oleh Munasinghe, bahwa interaksi manusia dan lingkungan tidak dapat dipisahkan dalam menciptakan pembangunan berkelanjutan, dimana interaksi tiga elemen utama yaitu lingkungan, ekonomi, dan sosial harus seimbang, tidak boleh satu melebihi  yang lain.[8]

Paul Taylor menyatakan bahwa bukan hanya manusia yang mempunyai nilai, tetapi alam juga mempunyai nilai pada dirinya sendiri lepas dari kepentingan manusia. Paul Taylor mengatakan bahwa secara moral manusia memilki kewajiban untuk menjaga dan mengelola lingkungan alam dengan bijak, karena lingkungan alam juga ciptaan Tuhan, sama dengan manusia. Oleh karena itu ia memandang fungsi kewajiban manusia terhadap lingkungan dengan memberikan argumentasi pada 4 poin:

  1. Kewajiban untuk tidak melakukan sesuatu yang merugikan alam dan segala isinya;
  2. Kewajiban untuk tidak mencampuri;
  3. Kesetiaan, maksudnya setia kepada semacam janji terhadap binatang liar untuk tidak diperdaya, dijebak, dan dijerat. Jadi kewajiban ini lebih berlaku dalam reaksi antar individu tertentu dengan binatang tertentu untuk dijaga dan dibiarkan hidup di alam bebas; dan
  4. Kewajiban restitutif atau keadilan retribuif. Kewajiban ini menuntut agar manusia memulihkan kembali kesalahan yang pernah dibuatnya yang menimbulkan kerugian terhadap alam dalam bentuk kerusakan atau pencemaran lingkungan. Manusia diwajibkan untuk mengembalikan alam yang telah dirusaknya ke kondisi semula.[9]

Melihat pandangan dari Paul Taylor bahwa kita dan lingkungan hidup berdampingan. Dalam upaya menjaga keselarasan tersebut, keberadaan budaya cinta lingkungan sangat dibutuhkan. Budaya ini sangat membantu dalam membuat lingkungan tetap dijaga oleh masyarakat dan bisa berdampingan layaknya manusia dengan manusia. Kebiasaan-kebiasaan tersebut bisa berdampak baik pada lingkungan. Dalam ilmu ekologi, manusia adalah satu kesatuan yang terpadu dengan lingkungannya.[10]

Peran Teman Sebaya

Kepribadian seseorang diperoleh karena adanya proses interaksi sosial ketika individu belajar dari lingkungan sosial sedikit demi sedikit. Setiap individu dalam masyarakat adalah pribadi yang unik, tetapi karena mereka memperoleh tipe-tipe sosialisasi yang sangat mirip, baik yang berasal dari rumah maupun sekolah, akan banyak ciri kepribadian yang hampir serupa. Kepribadian merupakan gabungan utuh dari sikap, sifat, emosi, dan nilai yang mempengaruhi seseorang agar berbuat sesuai dengan tata cara yang diharapkan.[11]

Salah satu faktor yang mempengaruhi pencapaian hasil belajar siswa, menurut Palaniswamy & Ponnuswami, adalah interaksi teman sebaya. Masa remaja merupakan masa dalam perkembangan manusia yang ditandai oleh masa transisi. Salah satu hal penting yang terjadi selama masa transisi remaja adalah hubungan dengan teman sebaya yang memiliki arti penting dan hal tersebut berpengaruh terhadap kehidupan remajanya. Masa remaja merupakan masa pencarian jati diri. Ernawati, dkk., mengatakan bahwa proses pencarian jati diri tersebut cenderung akan mencari tokoh identifikasi melalui interaksi sosialnya terutama teman seumurannya atau teman sebaya. Oleh karena itu, Ghozaly, dkk. mengatakan bahwa dalam menemukan identitas diri seorang remaja, proses terpentingnya adalah melalui interaksi dengan teman sebaya.[12]

Selaras dengan hal tersebut, keberadaan PCL sangatlah penting untuk menginternalisasi budaya cinta lingkungan kepada teman-teman sebayanya sesama pelajar. PCL bahkan bisa menjangkau level yang lebih tinggi, tidak hanya sesama pelajar, tetapi juga masyarakat umum dan instansi pemerintah di tingkat desa, kota/ kabupaten, provinsi, bahkan nasional.

Kajian Terdahulu

Penelitian terkait budaya cinta lingkungan sudah banyak dilakukan oleh peneliti-peneliti sebelumnya. Misalnya, penelitian yang dilakukan oleh Kurnia Cia Lusty dan Maisyaroh pada tahun 2021 dalam bentuk Jurnal Manajemen Pendidikan yang berjudul Peran Warga Sekolah dalam Penerapan Pendidikan Lingkungan Hidup. Salah satu tujuannya adalah untuk mengetahui peran siswa dalam penerapan pendidikan lingkungan hidup di SDN Dinoyo 2 Malang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa berperan sebagai subjek pelaksana kegiatan atau  program-program sekolah dalam menyalurkan kreativitas dan pendapat, dan sebagai pelaku untuk mewujudkan tujuan sekolah berwawasan lingkungan.[13]

Penelitian lain yang berkaitan dengan topik tulisan ini adalah penelitian yang dilakukan oleh Novi Eka Arifningtias pada tahun 2022 dalam bentuk skripsi yang berjudul Implementasi Pembelajaran PAI dalam Kegiatan Adiwiyata sebagai Pengoptimalan Cinta Lingkungan pada Siswa MTsN 6 Ponorogo. Salah satu tujuan penelitian ini untuk mengaplikasikan proses pembelajaran PAI dalam kegiatan adiwiyata terhadap sikap cinta lingkungan. Berdasarkan hasil temuan analisis data bahwa implikasi pembelajaran PAI terhadap sikap cinta lingkungan siswa yaitu: (a) pembelajaran Akidah Akhlak materi adab terhadap lingkungan, (b) pembelajaran SKI materi kebiasaan baik Khulafaurrosyidin terhadap lingkungan, (c) pembelajaran Al-Qur’an Hadits materi Hadits tentang kelestarian alam, dan (d) pembelajaran Fikih materi Bersuci dari Hadats dan Najis,  praktek thaharah (bersuci) diharapkan peserta didik untuk selalu menjaga kebersihan diri dan lingkungan terutama tempat beribadah. Manfaat adanya program adiwiyata yaitu: (a) semua warga madrasah peduli terhadap lingkungan, (b) lingkungan menjadi sejuk, bersih, dan rapi, (c) semua pembelajaran bisa dikaitkan dengan lingkungan, dan (d) siswa semakin antusias dan senang ketika melakukan pembelajaran.[14] Berdasarkan dua sampel penelitian di atas, penulis menyimpulakan bahwa pada umumnya tujuan penelitian terkait budaya cinta lingkungan memiliki kesamaan satu sama lain. Hasil yang ditemukan dari penelitian-penelitian tersebut juga memiliki kesamaan. Namun, penelitian terkait peran siswa dalam meningkatkan dalam meningkatkan budaya cinta lingkungan yang menjadikan organisasi PCL di SMK SMTI Banda Aceh sebagai subjek penelitiannya belum pernah ada. Penelitian ini merupakan penelitian yang pertama.(SYR)


[1] Tamara, R. M. (2016). Peranan Lingkungan Sosial terhadap Pembentukan Sikap Peduli Lingkungan Peserta Didik di SMA Negeri Kabupaten Cianjur. Jurnal Geografi Gea16(1), 44.

[2] Dwiyanto, B. M. (2011). Model Peningkatan Partisipasi Masyarakat dan Penguatan Sinergi dalam Pengelolaan Sampah Perkotaan. Jurnal Ekonomi Pembangunan, 12(2), 239-240.

[3] Tamara, R. M. (2016). Peranan Lingkungan Sosial… 44.

[4] Dwiyanto, B. M. (2011). Model Peningkatan Partisipasi Masyarakat… 240.

[5] Purwanto, N. (2018). Perilaku Sadar Lingkungan …42.

[6]Hendra, Y. (2016). Perbandingan Sistem Pengelolaan Sampah di Indonesia dan Korea Selatan: Kajian 5 Aspek Pengelolaan SampahAspirasi: Jurnal Masalah-masalah Sosial7(1), 77-78.

[7] Maulidin, I., Komala, W., Ikhsan, M., Qadafi, A. M., & Juarsa, R. P. (2017). Eco Smart: Kumpulan Pengetahuan Cinta Lingkungan Coboy. PT Penerbit IPB Press, 3.

[8] Purwanto, N. (2018). Perilaku Sadar Lingkungan …42.

[9] Yusuf, M. H. D. (2013). Pesan Budaya Cinta Lingkungan dalam Film The Mirror Never Lies (Doctoral dissertation, Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau), 17-18.

[10] Yusuf, M. H. D. (2013). Pesan Budaya Cinta Lingkungan …18-19.

[11] Febriyani, R., Darsono, D., & Sudarmanto, R. G. (2014). Model Interaksi Sosial Peran Teman Sebaya dalam Pembentukan Nilai Kepribadian Siswa. Jurnal Studi Sosial/Journal of Social Studies2(2), 3.

[12] Fadhilah, N., & Mukhlis, A. M. A. (2021). Hubungan Lingkungan Keluarga, Interaksi Teman Sebaya dan Kecerdasan Emosional dengan Hasil Belajar Siswa. Jurnal Pendidikan22(1), 17.

[13] Lusty, C., & Maisayaroh, K. (2012). Peran Warga Sekolah Dalam Penerapan Pendidikan Lingkungan Hidup. Jurnal Menajemen Pendidikan25(5), 454-459.

[14] Arifningtias, N. E. (2022). Implementasi Pembelajaran PAI dalam Kegiatan Adiwiyata Sebagai Pengoptimalan Cinta Lingkungan pada Siswa MTsN 6 Ponorogo (Doctoral dissertation, IAIN Ponorogo).

No responses yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *